Senin, 02 Januari 2012

TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN

TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN

Pada bab ini akan dibahas tentang konsep perilaku kekerasan  yang meliputi pengertian, rentang respon marah, proses kemarahan, konsep marah dan akibat yang ditimbulkan, etiologi, mekanisme koping, manifestasi klinik, masalah-masalah keperawatan, pohon masalah, diagnosa keperawatan  dan fokus intervensi pada perilaku kekerasan.
A. PENGERTIAN
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik terhadap diri sendiri maupun orang lain (Townsend, 1998). Menurut Stuart dan Sundeen (1998) perilaku kekerasan atau amuk adalah perasaan marah atau jengkel yang kuat disertai dengan hilangnya kontrol diri atau kendali diri.
Kemarahan adalah salah satu bentuk emosi manusia yang sepenuhnya bersifat normal dan setiap individu pasti pernah marah dengan berbagai alasan. Meskipun suatu hal yang wajar dan sehat, namun bila tidak dikendalikan dengan tepat dan bersifat destruktif, maka marah akan berpotensi menimbulkan masalah baru, seperti masalah di keluarga dan hubungan interpersonal (Papu, 2003). Setiap manusia mempunyai intensitas tersendiri dalam mengekspresikan kemarahannya dan respon marah yang berbeda dari individu terhadap frustasi. Keliat (1994) mengatakan bahwa kemarahan yang ditekan dan pura-pura tidak marah akan mempersulit diri sendiri dan mempengaruhi hubungan interpersonal.








B. RESPON MARAH
Perasaan marah adalah normal bagi individu, namun perilaku yang dimanifestasikan oleh perasaan marah dapat berubah dalam rentang adatif-maladaptif (Stuart & Sundeen, 1998).




Rentang Respon Marah
Adatif Maladaptif

Asertif                  frustasi              Pasif Agresif Kekerasan/amuk Gambar 1 : Rentang respon marah (Stuart & Sundeen, 1998, hal. 542)

Dari gambar diatas dapat kita ketahui bahwa rentang respon marah ditunjukkan mulai  dari terendah yaitu perilaku asertif sampai dengan maladaptif yaitu perilaku kekerasan (Stuart & Sundeen, 1998).
1. Respon marah adaptif meliputi asertif dan frustasi (Stuart & Sundeen, 1998).
a. Asertif
Mengeskpresikan kemarahan tanpa harus menyalahkan dan menyakiti orang lain dan individu biasanya mampu mengungkapkan rasa marah atau tidak setuju. Ini merupakan cara yang baik karena tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
b. Frustasi
Frustasi adalah respon marah akibat individu gagal mencapai tujuan yang realistik. Dalam hal ini seseorang tidak dapat menemukan alternatif lain dalam menyelesaikan masalah.
2. Respon marah maladaptif meliputi pasif, agresif, dan amuk.  
a. Pasif
Suatu keadaan individu tidak dapat mengungkapkan perasaan yang sedang dialami untuk menghindari suatu tuntutan nyata.
b. Agresif
Perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak menuntut suatu yang dianggapnya benar bisa dalam bentuk destruktif tetapi masih dapat dikontrol.
c. Amuk
Adalah perasaan  marah dan bermusuhan yang kuat disertai kehilangan kontrol dan dapat menyebabkan kerusakan diri sendiri atau orang lain.

C. PROSES KEMARAHAN
“Stress, marah, cemas adalah suatu hal tidak terlepas dari kehidupan individu” (Keliat, 1994, hal.7). Stress dapat mengakibatkan perasaan tidak menyenangkan dan kecemasan bisa menimbulkan kemarahan. Menurut Keliat (1994) ada tiga cara untuk mengungkapkan respon marah yaitu : pengungkapan secara verbal, menekan dan menantang. Menantang dapat menimbulkan permusuhan, maka tampak sebagai depresi, agresif dan amuk bila diekspresikan pada diri dan lingkungan.















D. KONSEP MARAH
Beck, Rawlin, dan Williams (1986, hal 447, dikutip oleh Keliat, 1994, hal.8) menggambarkan bagan Konsep Marah sebagai berikut :

Ancaman atau Kebutuhan

Stress

Cemas

Merasa kuat                                            Marah                            Merasa tidak adekuat

Menantang                                         Diungkapkan                            Melarikan diri 

Masalah tidak selesai                    Menjaga keutuhan                    Mengingkari marah
                                                             orang lain         

                                                   
Masalah berkepanjangan                          Lega                          Marah tidak terungkap

Ketegangan menurun

Rasa marah teratasi

Muncul rasa bermusuhan
Rasa permusuhan menurun



Marah dipendam     Marah pada orang        lain/lingkungan


         Depresi agresi amuk
Gambar 2 : Konsep marah (Beck, dkk, 1986, hal.447 dikutip oleh Keliat, 1994)

E. PENYEBAB
Penyebab kemarahan dikelompokkan menjadi tiga yaitu faktor predisposisi, stressor presipitasi dan faktor perilaku (Stuart & Sundeen, 1998).
1. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi yang menyebabkan perilaku kekerasan menurut Stuart dan Sundeen (1998, hal.542) adalah sebagai berikut :
a. Faktor Biologis
1. Teori dorongan naluri (Instictual Drive Theory)
Perilaku agresif berakar langsung atau tidak langsung dari suatu insting kehidupan, yang merupakan sekumpulan energi psikis yang akan meningkat saat ada perangsang, sehingga menimbulkan ketegangan dan mengakibatkan cemas kemudian menimbulkan marah.
2. Teori Psikosomatik (Psichosomatic Theory)
Akibat dari respon Psikologis terhadap stimulus internal dan eksternal itu disebut pengalaman marah. 
b.   Faktor Psikologis
1.  Teori Agresif Frustasi (Frustation Agression Theory)
Frustasi selalu menyebabkan bentuk agresi dan frustasi selalu diikuti agresi. Individu yang gagal dalam mencapai tujuannya bisa terjadi frustasi sehingga perilaku individu dapat menjadi agresif. 
1. Teori Perilaku (Behavioral Theory)
Perilaku agresif merupakan respon belajar yang dapat dicapai apabila dalam kondisi yang mendukung.


2. Teori  Eksistensi (Existensial Theory)
Perilaku destruktif akan dilakukan apabila kebutuhan  dasar manusia tidak dapat terpenuhi secara konstruktif. 
b. Faktor Sosiokultural
1. Teori Lingkungan Sosial (Social Environment Theory)
Keadaan lingkungan sosial dapat mempengaruhi individu dalam mengekspresikan marahnya.
2. Teori Belajar Sosial (Social Learning Theory)
Perilaku agresif dapat dipelajari secara langsung maupun tidak langsung melalui proses sosialisasi.
2. Stressor Presipitasi
Sumber-sumber stressor presipitasi yaitu dapat diakibatkan  dari klien, lingkungan atau interaksi dengan orang lain. Stressor dapat disebabkan dari internal maupun eksternal. Dari internal meliputi putus hubungan dengan orang yang dekat dengan dirinya, kehilngan  rasa cinta, ketakutan pada penyakit fisik. Sedangkan faktor eksternalnya yaitu meliputi penyakit fisik, kehilangan dan kematian menurut Keliat (1994).
3. Faktor Perilaku
Menurut Stuart dan Sundeen (1998, hal.544) perilaku yang berkaitan perilaku kekerasan yaitu seperti :
a. Menyerang atau menghindar (Flight or Fight)
Terdapat dua reaksi yang terjadi ketika individu menghadapi ancaman yaitu meliputi yang pertama  pertahanan dan melakukan penyerangan, yang kedua adalah menghindar untuk lari dari ancaman. Dalam menghindari ancaman yang terjadi individu menjadi ketakutan dan mengakibatkan timbulnya marah.
b. Bersikap asertif (Asertivenes)
Perilaku asertif merupakan perilaku yang baik untuk mengekspresikan marah   tanpa menyakiti orang lain, sikap ini diungkapkan secara konstruktif.

c. Memberontak (Acting Out)
Dalam faktor perilaku ini individu biasanya menyerang orang lain dan disertai dengan kekerasan. Perilaku ini dilakukan oleh individu untuk menarik perhatian orang lain.

F. MEKANISME KOPING 
Mekanisme koping yang sering muncul pada perilaku kekerasan menurut Keliat, dkk (1994. hal.142) yaitu sebagai berikut :
a. Displecement : Pemindahan emosi dari seseorang atau objek dengan mengarahkan yang netral atau yang kurang berbahaya.
b. Sublimasi : Mengganti suatu tujuan untuk tujuan yang tidak dapat diterima pada lingkungan sosial dengan perilaku yang bisa ditekan.
c. Projeksi : Memindahkan pikiran atau dorongan atau impuls emosional atau keinginan yang dapat diterima orang lain.
d. Represi : Secara tidak sadar menimbulkan ingatan pengalaman-pengalaman, pikiran, impuls yang menyakitkan dari alam sadarnya.
e. Reaksi Formasi : Perkembangan sikap dan pola tingkah laku yang berlawanan dengan dorongan yang diingikan oleh seseorang.

G. MANIFESTASI KLINIK
Perilaku  yang berhubungan dengan perilaku kekerasan menurut Beck, dkk (1986, dikutip oleh Keliat, 1994, hal.12) yaitu meliputi :
a. Fisik : Muka merah, pandangan tajam dan liar, napas pendek berkeringat, sakit fisik, penyalahgunaan obat tekanan darah meningkat. 
b. Emosi : Merasa takut, cemas, tidak aman, terganggu, marah dan jengkel
c. Intelektual : Ingin mendomonasi, sarkasme, berdebat, meremehkan dan bawel.
d. Spiritual : Kebenaran diri, keraguan, tidak bermoral, kreativitas terhambat.
e. Sosial : Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan humor.

H. MASALAH KEPERAWATAN
Masalah-masalh keperawatan yang sering muncul pada klien dengan perilaku kekerasan menurut Keliat (1999) adalah sebagai berikut :
1. Resiko mencederai diri sendiri orang lain dan lingkungan.
2. Perilaku kekerasan.
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah.
4. Koping individu tidak efektif.
5. Perubahan persepsi sensori : halusinasi.
6. Isolasi sosial : menarik diri.

I. POHON MASALAH
Menurut Keliat (1999, hal.21) bagan berikut merupakan pohon masalah dari masalah keperawatan yang muncul pada klien dengan perilaku kekerasan.
Resiko mencederai diri,
orang lain dan lingkungan


Perilaku kekerasan
(core problem) Perubahan persepsi sensori :  halusinasi

Gangguan konsep diri isolasi sosial : menarik diri
Harga diri rendah


Koping individu tidak efektif
Gambar 3 : Pohon masalah perilaku kekerasan (Keliat, 1999, hal.21)


J. DIAGNOSA KEPERAWATAN 
Keliat (1994) merumuskan diagnosa keperawatan berdasar dari perilaku kekerasan sebagai berikut :
1. Resiko mencederai diri, orang lain  dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
2. Perilaku kekerasan berhubungan  dengan harga diri rendah.
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah berhubungan dengan koping individu tidak efektif.
4.  Perubahan persepsi sensori : halusinasi berhubungan dengan isolasi sosial menarik diri.

K. FOKUS INTERVENSI
Fokus intervensi dari diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan perilaku kekerasan yang dikemukakan oleh Keliat (1999) adalah sebagai berikut :
1. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan.
Tujuan Umum :
Klien dapat melanjutkan hubungan peran sesuai dengan tanggung jawabnya :
Tujuan khusus 1 :
Klien dapat membina hubungan saling percaya.
Kriteria evaluasi: klien mau membalas salam,klien mau berjabat tangan,  klien mau menyebut nama, klien mau tersenyum, klien ada kontak mata,  klien mau mengetahui nama perawat, klien mau menyediakan waktu untuk  perawat. Intervensi keperawatan: beri salam dan panggil nama klien,  sebutkan nama perawat sambil berjabat tangan, jelaskan maksud hubungan  interaksi, jelaskan kontrak yang akan dibuat, beri rasa aman dan tunjukkan  sikap empati, lakukan kontak singkat tetapi sering. Rasional: hubungan   saling percaya merupakan dasar untuk hubungan selanjutnya.


Tujuan khusus 2 :
Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan .
Kriteria Evaluasi: klien mengungkapkan perasaannya, klien dapat mengungkapkan penyebab perasaan marah, jengkel/ kesal ( diri sendiri, orang lain dan lingkungan). Intervensi keperawatan : beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaanya, bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan  marah, jengkel/ kesal. Rasional: beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dapat membantu mengurangi stress dan penyebab marah, jengkel/ kesal dapat diketahui.
Tujuan khusus 3 :
Klien dapat mengidentifikasi tanda perilaku kekerasan
Kriteria evaluasi: klien dapat mengungkapkan tanda-tanda marah, jengkel/ kesal, klien dapat menyimpulkan tanda-tanda marah, jengkel/ kesal yang dialami. Intervensi keperawatan: anjurkan klien mengungkapkan yang dialami soal marah, jengkel/ kesal, observasi tanda perilaku kekerasan pada klien, simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel/ kesal yang  dialami klien. Rasional: untuk mengetahui hal yang dialami dan dirasakan saat  jengkel, untuk mengetahui tanda-tanda klien jengkel/ kesal, menarik kesimpulan bersama klien supaya kllien mengetahui secara garis besar tanda- tanda marah / kesal.
Tujuan khusus 4 :
Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan.
Kriteria evaluasi: klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien, klien dapat bermain peran dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, klien mengetahui cara yang biasa dapat menyelesaikan  masalah/ tidak. Intervensi: anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien, bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, bicarakan dengan klien apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Rasional: mengeksplorasi perasaan klien terhadap perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, untuk mengetahui perilaku kekerasan yang  biasa klien lakukan dan dengan bantuan perawat bisa membedakan perilaku yang konstruktif dengan destruktif, dapat membantu klien, dapat menggunakan cara yang dapat menyelesaikan masalah.
Tujuan khusus 5 :
Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien. Intervensi keperawatan: bicarakan akibat/ kerugian dari cara yang telah dilakukan klien, bersama klien simpulkan akibat cara yang digunakan oleh klien, tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat. Rasional: membantu klien menilai perilaku kekerasan yang dilakukan, dengan mengetahui akibat perilaku kekerasan diharapkan klien dapat mengubah perilaku destruktidf menjadi konstruktif, agar klien dapat mempelajari perilaku konstruktif yang lain.
Tujuan khusus 6 :
Klien dapat mengidentifikasi cara konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan.
Kriteria evaluasi: Klien dapat melakukan cara berespon terhadap kemarahan secara konstruktif. Intervensi: tanyakan pada klien apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat, berikan pujian bila klien mengetahui cara lain yang sehat, diskusikan dengan klien cara lain yang sehat. Secara fisik: tarik nafas dalam saat kesal, memukul kasur/ bantal, olah raga, melakukan pekerjaan yang penuh tenaga. Secara verbal : katakan pada perawat atau orang lain. Secara social : latihan asertif, manajemen PK. Secara spiritual : anjurkan klien sembahyang, berdoa,/ ibadah lain. Rasional: dengan mengidentifikasi cara yang konstruktif dalam berespon terhadap kemarahan dapat membantu klien menemukan cara yang baik untuk mengurangi kekesalannya sehingga klien tidak stress lagi, reinforcement positif dapat memotivasi klien dan meningkatkan harga dirinya, berdiskusi dengan klien untuk memilih cara yang lain dan sesuai dengan kemampuan klien.


Tujuan khusus 7 :
Klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: klien dapat mendemonstrasikan cara mengontrol perilaku kekerasan. Fisik: tarik nafas dalam, olah raga, menyiram tanaman. Verbal: mengatakan langsung dengan tidak menyakiti. Spiritual: sembahyang, berdoa, ibadah lain. Intervensi keperawatan: bantu klien memilih cara yang paling tepat untuk klien, bantu klien mengidentifikasi manfaat cara yang dipilih, bantu klien menstimulasi cara tersebut (role play), beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menstimulasi cara tersebut, anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah. Rasional: memberikan stimulasi kepada klien untuk menilai respon perilaku kekerasan secara tepat, membantu klien dalam membuat keputusan untuk cara yang telah dipilihnya dengan melihat manfaatnya, agar klien mengetahui cara marah yang konstruktif, pujian dapat meningkatkan motifasi dan harga diri klien, agar klien dapat melaksanakan cara yang telah dipilihnya jika sedang kesal.
Tujuan khusus 8 :
Klien mendapat dukungan keluarga dalam mengontrol perilaku kekerasan.
Kriteria evaluasi: untuk keluarga klien dapat menyebutkan cara merawat klien yang berperilaku kekerasan, mengungkapkan rasa puas dalam merawat klien. Intervensi keperawatan: identifikasi kemampuan keluarga klien dari sikap apa yang telah dilakukan keluarga terhadap klien selama ini, jelaskan peran serta keluarga dalam merawat klien, jelaskan cara-cara merawat klien, bantu keluarga mendemonstrasikan cara merawat klien, bantu keluarga mengungkapkan perasaannya setelah melakukan demonstrasi. Rasional: kemampuan keluarga dalam mengidentifikasi akan memungkinkan keluarga untuk melakukan penilaian terhadap perilaku kekerasan, meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien sehingga keluarga terlibat dalam perawatan klien, agar keluarga dapat klien dengan perilaku kekerasannya, agar keluarga mengetahui cara merawat klien melalui demonstrasi yang dilihat keluarga secara langsung, mengeksplorasi perasaan keluarga setelah melakukan demonstrasi.
Tujuan khusus 9 :
Klien dapat menggunakan obat dengan benar (sesuai program pengobatan).
Kriteria evaluasi: klien dapat menyebutkan obat- obatan yang diminum dan kegunaan (jenis, waktu, dosis, dan efek), klien dapat minum obat sesuai program terapi. Intervensi keperawatan: jelaskan jenis-jenis obat yang diminum klien (pada klien dan keluarga), diskusikan menfaat minum obat dan kerugian jika berhenti minum obat tanpa seijin dokter, jelaskan prinsip benar minum obat (nama, dosis, waktu, cara minum), anjurkan klien minta obat dan minum obat tepat waktu, anjurkan klien melapor kepada perawat/ dokter bila merasakan efek yang tidak menyenangkan, berikan pujian pada klien bila minum obat dengan benar. Rasional: klien dan keluarga dapat mengetahui mana-mana obat yang diminum oleh klien, dapat mengetahui kegunaan obat yang dikonsumsi oleh klien, dapat mengetahui prinsip benar agartidak terjadi kesalahan dalam mengkonsumsi obat, klien dapat memiliki kesadaran pentingnya minum obat dan bersedia minum obat dengan kesadaran sendiri, mengetahui efek samping obat sedini mungkin sehingga tindakan dapat dilakukan sesegera mungkin untuk menghindari komplikasi, reinforcement positif dapat memotivasi keluarga dan klien serta meningkatkan harga diri.










BAB II
RESUME KEPERAWATAN

Bab ini akan membahas mengenai ringkasan hasil asuhan keperawatan perilaku kekerasan pada Ny. K di Ruang II Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang, yang akan menguraikan tentang : pengkajian, analisa data, intervensi, implementasi dan evaluasi yang telah dilakukan selama tiga hari.
Pengkajian dilakukan pada tanggal 19 Juni 2006 jam. 10.00 WIB di ruang II RSJ Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang, diperoleh data sebagai berikut :
Klien berinisial Ny. K, seorang perempuan yang berumur 28 tahun,  beragama Islam dengan alamat di Kaliwungu Kendal. Pendidikan tamat SMA, klien masuk Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang pada tanggal 13 Juni 2006 jam 13.00 WIB, nomor register 023897. klien dikirim oleh keluarganya
Ny K dikirim oleh keluarganya  ke Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondo Hutomo Semarang dengan penangung  jawab Tn. Z, yang beralamat di Kaliwungu Kendal. Hubungan Tn. Z dengan klien adalah sebagai ayah angkat.
Klien merupakan anak kedua dari dua bersaudara, klien tinggal bersana ibu klien,di dalam keluarga klien ada yang sakit seperti klien yaitu kakak klien.
Status klien sebelum sakit adalah seorang suami dan belum punya anak. Klien merasa puas sebagai seorang laki-laki,Klien merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Klien merupakan anggota masyarakat yang sebelumnya melakukan peran dengan baik.Klien berharap bisa cepat sembuh, bisa diterima lingkungannya kembali. Klien juga ingin bisa bekerja.Klien tidak ada masalah dengan hargadirinya.



Klien dalam berpakaian dan menata rambut kurang rapi, dalam berbicara lambat, nada keras. Klien selalu menanyakan tanggal dan hari dalam setiap harinya. Aktivitas baik, klien sering mondar-mandir lalu tiduran, ekspresi wajah terlihat tegang dan gelisah. klien merasa bosan karena klien ingin cepat pulang. klien terlihat gelisah dan sedih, Afek datar, kadang-kadang berubah, klien tidak malu pada orang walaupun orang  yang belum dikenal. Pandangan mata baik, berbicara sepenuhnya bila ditanya dan  kooperatif.Dalam berbicara tidak berbelit-belit dan sampai pada tujuan pembicaraan.Obsesi klien mempunyai keinginan bisa berhasil dan sukses.Klien dapat membedakan orang, waktu, tempat dan situasi.
Klien mampu mengingat kejadian jangka panjang, mampu melakukan perhitungan sederhana, mampu mengambil keputusan sederhana, misalnya : klien disuruh memilih tinggal di RSJ atau di rumah, klien menjawab lebih baik tinggal di rumah.Klien menyadari bahwa dirinya sakit.
Klien biasa di rumah dengan keluarganya, bila ada masalah klien jarang mengutarakan dengan seluruh keluarganya. Klien mengatakan ”selama ini semenjak sakit jarang mengikuti kegiatan di kampung.
Satu hari sebelum dibawa kerumah sakit jiwa pasien marah-marah,memukul anak ayah angkatnya. Penderita suka membanting barang-barang rumah tangga.Faktor predisposisi sebelumnya klien pernah mengalami gangguan jiwa dan pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Dr. Amino Gondo Hutomo. Pengobatan sebelumnya kurang berhasil. Klien tidak pernah mengalami aniaya fisik, aniaya seksual, penolakan kekerasan dalam rumah tangga dan tindak kriminal. Sedangkan faktor presipitasinya adalah Klien ditinggal istrinya kerumah orang tuanya dengan membawa semua uang pasien, Akhirnya klien mulai berteriak-teriak dan mengamuk dan memukul anak dari ayah angkatnya.
Pada pengkajian fokus didapatkan bahwa klien mengatakan mengamuk, marah-marah,membanting barang-barang rumah tangga, dan memukul anak ayah angkatnya. Hasil observasi didapatkan data klien pembicaraannya koheren, menguasai bahan pembicaraan, tidak kacau, nada bicara tidak tegang. Klien menjawab pertanyaan perawat dengan panjang lebar. Klien mengatakan malu dengan keadaannya dan klien juga mengatakan setelah marah-marah dia merasa malu kemudian menutup pintu rumah dan menguncinya dari dalam. Klien aktif dalam kegiatan dan rajin bekerja. 
Pada pemeriksaan fisik diketahui tekanan darah 130/80 mm Hg, nadi 82 x/menit, suhu 36 º C, nafas 20 x/menit.
Klien mendapatkan terapi medik peroral Chlorpromazin 2x100 mg, Trihexyperidil 2 x 2mg, Haloperidol 2 x 5 mg, Chlorpomazin 2 x 100 mg
Daftar masalah keperawatan pada Tn. E adalah sebagai berikut ;  resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan;  adanya perilaku kekerasan.





















Pohon Masalah


                                 Resiko mencederai diri,                      akibat
Orang lain dan lingkungan



                                                                                              core problem



                                     koping individu tidak efektif                  penyebab 


Gambar 4 : pohon masalah sesuai dengan hasil pengkajian.
Analisa data yang diperoleh pada hari senin 14 Juni 2006, jam 10.00 WIB yaitu adanya resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan; perilaku kekerasan. Data subjektifnya : klien mengatakan dirumah marah-marah, merusak barang-barang rumah tangga seperti gelas,almari. pasien juga mengatakan marah karena istrinya meninggalkannya kerumah orang tuanya dengan membawa semua uangnya. Data objektif : klien selama wawancara dalam menjawab pertanyaan dengan menggunakan nada keras. 
Dari masalah yang ada pada Tn. E dapat disimpulkan diagnosa keperawatannya adalah : resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan
Berikut akan dijelaskan mengenai intervensi, implementasi, dan evaluasi dari diagnosa pertama yaitu resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan perilaku kekerasan. Tujuan umum : klien dapat melanjutkan peran melanjutkan hubugan peran sesuai dengan tanggung jawabnya. Pada pertemuan pertama dilakukan tujuan khusus satu sampai tiga.
Tujuan khusus satu : klien dapat membina hubungan saling percaya setelah dilakukan tindakan keperawatan, dengan kreteria hasil, klien mau membalas salam, mau berjabat tangan, klien mau menyebutkan nama, tersenyum, kontak mata ada, mau duduk berdampingan dengan perawat, mau menyediakan waktu untuk kontrak.
Intervensi keperawatan  : beri salam atau panggil nama klien, sebutkan nama perawat dan jabat tangan, jelaskan maksud hubungan interaksi, jelaskan kontrak yang akan dibuat. Beri rasa aman dan sikap empati, lakukan kontak singkat.
Implementasi keperawatan tanggal 14 Juni 2006 jam 10.00 WIB adalah sebagai berikut : membina hubungan saling percaya dengan komunikasi terapeutik, mendiskusikan dengan klien tentang kegiatan yang dilakukan dirumah, menanyakan mengapa klien dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, memberi pujian atas apa yang diungkapkan klien. 
Tujuan khusus dua : klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan, setelah dilakukan tindakan keperawatan, dengan kreteria hasil sebagai berikut : klien dapat mengungkapkan perasaannya, Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab jengkel atau marah. Intervensi keperawatan : beri kesempatan klien mengungkapkan perasaanya dan mengungkapkan penyebab marah.
Implementasi keperawatan yang dilakukan pada tanggal 14 Juni 2006 jam 10.00 WIB yaitu memberikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya dan mengungkapkan penyebab marah, menganjurkan klien mengungkapkan apa yang dilakukan saat jengkel atau marah. Evaluasi yang didapat adalah klien mau mengungkapkan penyebab marah yaitu klien tahu bahwa anaknya akan dibunuh budenya.
Tujuan khusus tiga : klien dapat mengidentifikasi tanda-tanda dari perilaku kekerasan, dengan kreteria hasil klien dapat mengungkapkan perasaannya saat jengkel atau marah dan dapat menyimpulkan tanda-tanda dari perilaku kekerasan.  Intervensi keperawatan : observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien dan bersama klien menyimpulkan tanda-tanda perilaku kekerasan.
Implementasi yang dilakukan adalah menganjurkan klien untuk mengungkapkan yang dialami saat jengkel atau marah, observasi tanda-tanda perilaku kekerasan pada klien, simpulkan bersama klien tanda-tanda jengkel atau marah yang dialami. Evaluasi yang didapat adalah klien mengetahui tanda tanda dari perilaku kekerasan. Evaluasi yang didapat dari pertemuan pertama ini
 adalah sebagai berikut : klien mau menyebutkan nama  yaitu Sdr. E Klien mengetahui nama perawat dengan mengatakan nama perawatnya adalah “mas Torik”. Klien mengatakan kegiatannya dirumah adalah membantu Ibu, dan dibawa kesini karena dirumah marah-marah dan membating barang-barang rumah tangga, klien mengetahui tanda tanda dari perilaku kekerasan. Klien tampak kooperatif, ada kontak mata, klien mau mengenal nama perawat, klien mau berjabat tangan. Untuk implementasi ini tujuan khusus satu sampai tiga tercapai dan direncanakan untuk perawat lanjutkan tujuan khusus selanjutnya dan untuk klien dapat mempertahankan hubungan saling percaya untuk hubungan selanjutnya.
 Pada pertemuan kedua (20 Juni 2006) dilakukan tujuan khusus empat dan lima untuk.
 Tujuan khusus empat: klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukakan, dengan kreteria hasil klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, klien dapat bermain peran  dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan, klien dapat mengetahui cara yang bisa menyelesaikan masalah atau tidak.Intervensi keperawatan : bantu klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan dan apakah cara itu dapat menyelesaikan masalah. 
Implementasi yang dilakukan adalah menganjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan saat jengkel atau marah, bicarakan dengan klien “apakah dengan yang dilakukannya dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dapat terselesaikan?”. 
Tujuan khusus lima : klien mampu mengidentifikasi akibat atau kerugian dari perilaku kekerasan yang biasa dilakukan oleh klien dengan kreteria hasil klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien. Intervensi keperawatan :  bicarakan akibat atau kerugian dari cara yang klien lakukan.
Implementasi yang dilakukan adalah membicarakan dengan klien akibat atau kerugian dengan cara yang dilakukan klien, bersama klien menyimpulkan akibat cara yang digunakan klien, tanyakan “apakah klien merasa rugi dengan cara yang digunakan?” . Evaluasi yang didapat dari pertemuan kedua ini adalah mengungkapkan apa yang dilakukan saat marah yaitu dengan membanting barang-barang rumah tangga dan pasien juga mengungkapkan apa yang dilakukan menurutnya tidak menyelesaikan masalah tetapi membuat klien merasa malu dengan keadaanya, setelah marah klien mengunci pintu rumahnya, klien juga mengatakan merasa rugi dari cara yang klien gunakan karena barang-barang rumah tangganya rusak dan kemudian dibawa kerumah Sakit Jiwa dan tidak dapat bertemu dengan anaknya. Klien mau mengungkapakan perasaanya saat marah. Tujuan ke empat dan lima tercapai. Untuk rencana selanjutnya bagi perawat adalah lakukan tujuan khusus keenam dan untuk pasien adalah mengetahui bagaimana cara mengontrol marah yang sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Photobucket