Kamis, 22 Desember 2011

Sepsis Neonatorum

SEPSIS NEONATORUM


DEFINISI
Sepsis Neonatorum adalah suatu infeksi bakteri berat yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir.

Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir.
Infeksi bakteri 5 kali lebih sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih sering menyerang bayi laki-laki.

Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu 6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalamw aktu 72 jam setelah lahir.
Sepsis yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi nasokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).
PENYEBAB
Penyebabnya biasanya adalah infeksi bakteri.

Resiko terjadinya sepsis meningkat pada:
- Ketuban pecah sebelum waktunya
- Perdarahan atau infeksi pada ibu.
GEJALA
Bayi tampak lesu, tidak kuat menghisap, denyut jantungnya lambat dan suhu tubuhnya turun-naik.
Gejala lainnya adalah:
- gangguan pernafasan
- kejang
- jaundice (sakit kuning)
- muntah
- diare
- perut kembung.

Gejalanya tergantung kepada sumber infeksi dan penyebarannya:
• Infeksi pada tali pusar (omfalitis) bisa menyebabkan keluarnya nanah atau darah dari pusar
• Infeksi pada selaput otak (meningitis) atau abses otak bisa menyebabkan koma, kejang, opistotonus (posisi tubuh melengkung ke depan) atau penonjolan pada ubun-ubun
• Infeksi pada tulang (osteomielitis) menyebabkan terbatasnya pergerakan pada lengan atau tungkai yang terkena
• Infeksi pada persendian bisa menyebabkan pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan dan sendi yang terkena teraba hangat
• Infeksi pada selaput perut (peritonitis) bisa menyebabkan pembengkakan perut dan diare berdarah.
DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.

Organsisme penyebab terjadinya infeksi bisa diketahui dengan melakukan pemeriksaan mikroskopis maupun pembiakan terhadap contoh darah, air kemih maupun cairan dari telinga dan lambung.
Jika diduga suatu meningitis, maka dilakukan pungsi lumbal.
PENGOBATAN
Antibiotik diberikan melalui infus.
Pada kasus tertentu, mungkin perlu diberikan antibodi yang dimurnikan atau sel darah putih.


PROGNOSIS

25% bayi meninggal meskipun telah diberikan antibiotik dan perawatan intensif.
Angka kematian pada bayi prematur yang kecil adalah 2 kali lebih besar.

Tanda Dan Gejala Kehamilan

TANDA DAN GEJALA KEHAMILAN


1) Tanda – tanda dugaan hamil

a. Amenorea
Konsepsi & nidasi menyebabkan tidak terjadinya pembentukan folikel de Graaf dan ovulasi. Wanita harus dapat mengetahui tanggal HPHT supaya dapat ditaksir umur kehamilan dan taksiran tanggal persalinan ( TTP ), yang dihitung dengan menggunakan rumus dari Naegele :
TTP = (HPHT + 7) & (bulan HT + 3)
b. Mual & muntah ( nausea dan vomiting)
Terjadi karena pengaruh estrogen dan progesterone sehingga pengeluaran asam lambung berlebihan. Biasanya terjadi pada bulan-bulan pertama kehamilan hingga akhir triwulan I,karena sering terjadi pada pagi hari maka disebut morning sickness. Dalam batas yang fisiologis keadaan ini dapat diatasi.

c. Mengidam (ingin makanan khusus)
Ibu hamil sering meminta makanan & minuman tertentu terutama pada triwulan I.

d. Pingsan
Bila berada pada tempat – tempat ramai yang sesak & padat, keadaan ini menghilang setelah umur kehamilan 16 minggu.

e. Anoreksia
Hanya pada triwulan I, kemudian nafsu makan timbul kembali.

f. Payudara membesar,tegang dan sedikit nyeri
Disebabkan pengaruh estrogen dan progesteron merangsang duktus dan alveoli sehingga menimbulkan deposit lemak, air dan garam pada payudara.

g. Miksi sering
Desakan rahim yang membesar menyebabkan kandung kemih tertekan sehingga cepat terasa penuh. Gejala ini hilang pada triwulan ke-2 dan timbul lagi pada triwulan ke-3.

h. Konstipasi / obstipasi
Karena tonus otot – otot usus menurun oleh pengaruh hormon steroid.


i. Pigmentasi kulit
1) Sekitar pipi : Chloasma gravidarum yaitu keluarnya melanophore karena stimulating hormon hipofisis anterior.
2) Dinding perut :
striae lividae
striae nigra
linea alba makin hitam
3) Sekitar payudara :
hiperpigmentasi areola mamae
putting susu makin menonjol
kelenjar Montgomery menonjol
pembuluh darah menifes sekitar payudara
j. Epulsi : hipertrofi dari papil gusi

k.  Varices / penampakan pembuluh darah vena
terjadi di sekitar genitalia eksterna, kaki dan betis
menghilang setelah persalinan

2) Tanda – tanda tidak pasti kehamilan

a. Rahim membesar,sesuai dengan tuanya hamil
b. Pada pemeriksaan dijumpai :
Tanda Hegar
Tanda Chadwicks
Tanda Piscaseck
Kontraksi Braxton Hicks
Teraba Ballotement
c. Pemeriksaan tes biologis kehamilan positif
Sebagian kemungkinan positif palsu

3) Tanda pasti kehamilan
a. Gerakan janin dalam rahim
Terlihat / teraba gerakan jalan
Teraba bagian – bagian janin

b. Denyut jantung janin
Didengar dengan stetoskop Laenec, alat kardiotopografi,alat Doppler
Dilihat dengan USG
Pemeriksaan dengan rontgent untuk melihat kerangka janin, USG


Cairan Dan Elektrolit

CAIRAN DAN ELEKTROLIT


Keadaan normal status cairan dan elektrolit
Air adalah komponen pembentuk tubuh yang paling banyak jumlahnya. Pada orangdewasa kurang lebih 60 % dari berat badan adalah air (air dan elektrolit), 2/3 bagian berada di intrasel, dan 1/3 bagian berada di ekstrasel.
60 % berat badan tubuh adalah :
a. Cairan intrasel (CIS) 40 % dari berat badan
b. Cairan ekstrasel (CES) 20 % dari berat badan yang terdiri dari cairan intravaskuler (plasma) 5 % dari berat badan, dan cairan interstisil 15 % dari berat badan.

Elektrolit utama
a. Dari CES : Natrium (N = 135 - 147 mEq/liter), Klorida (N = 100 - 106 mEq/liter)
b. Dari CIS : Kalium (N = 3,5 - 5,5 mEq/liter), Phospat (N = 3 - 4,5 mg/liter)

Secara lebih terperinci kandungan kadar elektrolit dalam tubuh adalah sebagai berikut :

mEq Plasma Interstisial Seluler
Na
Cl
HCO3
K
Ca
Mg
PO4
SO4
Protein 145
100
27
4
5
3
2
1
16 143
110
27
4
5
3
2
1
2 14
-
10
150
-
26
113
-
74


Konsentrasi ion H pada suatu larutan atau tingkat keasaman dan kebasaan ditunjukkan sebagai pH .
Nilai pH normal adalah 7,35 - 7,45
Air murni merupakan larutan netral mempunyai pH 7
Larutan asam mempunyai pH
Larutan basa mempunyai pH > 7
Rehidrasi
Goldberger (1980) melakukan beberapa cara menghitung kebutuhan cairan dan elektrolit, yaitu :
Cara I
Jika ada rasa haus dan tidak ada tanda-tanda klinis dehidrasi lainnya, maka kehilangan cairan kira-kira 2 % dari BB pada waktu itu. Contoh: BB 50 kg maka defisit cairan sekitar 1 liter. (1000 cc)
Jika seseorang bepergian 3-4 hari tanpa air dan ada rasa haus, mulut kering, oliguria, maka defisit air sekitar 6 % atau 3000 cc pada orang dengan BB 50 kg.
Bila ada tanda di atas ditambah dengan kelemahan fisik nyata, perubahan mental seperti bingung atau delirium, maka defisit cairan sekitar 7-14% atau sekitar 3,5 sampai 7 liter pada orang dengan BB 50 kg.
Cara II:
Jika penderita dapat ditimbang tiap hari, maka kehilangan BB 4 kg pada fase akut cuma dengan defisit air 4 liter.
Cara III:
Dengan suatu kenyataan bahwa kosentrasi natrium dalam plasma berbanding terbalik denganvolume ekstrasel dengan pengertian bahwa kehilangan air tidak disertai dengan perubahan kosentrasi natrium dalam plasma, maka dapat dihitung dengan rumus:
Na2 x BW2 = Na1 x BW1 dimana;
Na1 = kadas Na plasma normal 142 mEq/liter
BW1 = volume air badan normal sekitar 60 % dari BB pria dan 50 % dari BB wanita.
   Na2 = Kadar natrium plasma sekarang.
 BW2= Volume air badan sekarang.
Daldiyono (1973) mengemukakan salah satu cara menghitung kebutuhan cairan untuk rehidrasi inisial pada gastro enteritis akut berdasarkan sistim score.
Adapun nilai/score gejala klinis dapat dilihat pada tabel dibawah ini
Gejala klinik Score
Muntah
Vox colerica (suara sesak)
Kesadaran apatis
Kesadaran somnolent sampai dengan koma
Tensi sistolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
Nadi lebih atau sama dengan 120 x/menit
Napas kusmaul > 30x/menit
Turgor kulit kurang
Vacies colerica
Ekstremitas dingin
Jari tangan keriput
Sianosis
Umur 50 atau lebih
Umur 60 tahun atau lebih 1
2
1
2
2
1
1
1
2
1
1
2
-1
-2
Semua score ditulis lalu dijumlah. Jumlah cairan yang akan diberikan dalam 2 jam dapat dihitung:
Score x 10% x BB (Kg) x 1 liter
15
Dengan menggunakan rumus Margon-walten (dikutip dari Daldiyono) yaitu dengan mengukur BJ Plasma:

BJ plasma -1,025 x BB (Kg) x 4 ml
0,001
Contoh : Pria BB 40 Kg dengan BJ Plasama pada waktu itu 1,030, maka kebutuhan cairan untuk rehidrasi inisial :
1,030 - 1,025 x 40 x 4 ml = 800 ml
0,001
Jumlah cairan yang dibutuhkan adalah :
Menurut Golderberg (1980) kebutuhan cairan berdasarkan gejala klinis adalah:
cara 1. Kehilangan cairan sekitar 6% dari BB atau sekitar 3 liter.
Menurut cara III rumus :
Na II x Bw 2 = Na I x Bw I
123 x X = 142 x 22
X = 25,4 (tak sesuai)
Menurut score Daldiyono dari gejala klinis ditemukan score 6 , perhitungannya:
6 x 10% x 50 Kg x 1 liter = 2 liter (2000 ml)
15

Asuhan Keperawatan Osteomielitis

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN OSTEOMIELITIS


A. LATAR BELAKANG
Osteomielitis atau infeksi tulang merupakan masalah khusus dalam diagnosa dan terapi infeksi. Dalam 10 tahun ini minat untuk menyelidiki osteomielitis berhasil membuka pandangan baru dalam patogenesis, diagnosis dan terapinya. Beberapa faktor telah membantu menambah pengertian kita akan osteomielitis. Pengembangan model binatang yang memadai telah mengurangi banyak variabel tak terkontrol pada penyakit pada manusia. Teknik yang lebih seperti radionuclide imaging telah memperbaiki kecermatan diagnosis kita dan teknik ortopedi yang lebih baru serta penggunaan regimen antibiotika profilaksis telah mengecilkan resiko infeksi dan menambah kemungkinan penyembuhan tulang pada daerah yang terinfeksi.(http:/www.kalbe.co.id/files/cdk/files/og osteomielitis 023.pdf/09 osteomielitis 023.html)
Diagnosis dini osteomielitis sangat sulit pada pasien dengan nyeri ekstremitas dan riwayat cidera, yang nyerinya cenderung dikaitkan dengan trauma tersebut. Riwayat cedera umumnya terdapat pada pasien osteomielitis. Pada salah satu penelitian 35% pasien pernah mengalami trauma pada tulang yang terkena osteomielitis. Riwayat trauma sebelumnya dapat terjadi kebetulan dan tidak berhubungan. Tetapi sekarang sudah diketahui bahwa trauma dapat menjadi faktor penyebab terjadinya osteomielitis.(http://www.tempo.co.id/medika/arsip/112002/sar-1.htm)
Beberapa tahun belakangan ini, insiden osteomielitis telah menurun, mungkin disebabkan oleh perbaikan kesehatan umum dan perbaikan fasilitas medik. Sekali menderita penyakit ini, sulit untuk memberantasnya. Penyakit ini sulit diobati karena dapat terbentuk abses lokal. Abses tulang biasanya memiliki pendarahan yang sangat kurang, dengan demikian penyampaian sel – sel imun dan antibiotik terbatas.(Elizabeth J. Corwin, 2001, hal. 301)
Berdasarkan data dari rekam medik BPRSUD Kraton Kabupaten Pekalongan selama tahun 2005 di bulan Januari-Desember kasus Osteomielitis sebanyak tiga pasien dan pada tahun 2006 dari bulan Januari-Desember kasus Osteomielitis sebanyak empat pasien. Jadi, selama kurun waktu dua tahun jumlah penderita osteomilitis sebanyak tujuh pasien.
Melihat fenomena tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil kasus asuhan keperawatan osteomielitis.

B. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup
Dalam menyusun karya tulis ilmiah , penulis merumuskan masalah tentang : Bagaimanakah asuhan keperawatan osteomielitis pada Sdr. M di ruang Wijaya Kusuma BPRSUD Kraton Kabupaten Pekalongan ?
Dengan ruang lingkup asuhan keperawatan osteomielitis pada Sdr. M di ruang Wijaya Kusuma BPRSUD Kraton Kabupaten Pekalongan dari tanggal 2-3 Juli 2007.

C. Tujuan
1. Tujuan Umum
Penerapan asuhan keperawatan pada pasien osteomielitis secara komprehensif.
2. Tujuan Khusus
a. Dapat melakukan pengkajian pada pasien dengan osteomielitis.
b. Merumuskan diagnosa keperawatan pada pasien dengan kasus osteomielitis.
c. Dapat membuat perencanaan yang meliputi rencana tujuan dan rencana tindakan pada pasien dengan kasus osteomielitis.
d. Melakukan implementasi sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat.
e. Melakukan evaluasi dan melihat respon pasien dengan kasus osteomielitis.

f. Sistematika Penulisan karya tulis ilmiah
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah, penulis membuat sistematika sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan, yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Konsep dasar, yang terdiri dari : pengertian, klasifikasi, etiologi, faktor predisposisi, manifestasi klinik, patofisiologi, pathway keperawatan, pemeriksaan penunjang dan fokus keperawatan.
Bab III  : Resume keperawatan, yang terdiri dari : pengkajian, analisa data, prioritas diagnosa keperawatan yang muncul, rencana keperawatan, implementasi dan evaluasi.
Bab IV : Pembahasan, berisi pembahasan yang muncul dalam proses keperawatan serta kesenjangan antara tinjauan kasus dan konsep dasar serta mencari alternatif pemecahan masalah.
Bab V  Implikasi keperawatan, berisi kesimpulan dan saran.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN














BAB II
KONSEP DASAR


A. PENGERTIAN
Osteomielitis adalah infeksi pada sumsum tulang yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus atau proses spesifik (M. Tuberculosa, jamur) (Mansjoer, 2000, hal 358).
Osteomielitis adalah infeksi akut tulang yang dapat terjadi karena penyebaran infeksi dari darah (osteomielitis hematogen) atau yang lebih sering, setelah kontaminasi fraktur terbuka atau reduksi (osteomielitis eksogen) (Elizabet J. Coroin, 2001, hal 301).
Osteomielitis adalah infeksi pada tulang yang biasanya menyerang metafisis tulang panjang (FKUI Jakarta, 1996, hal 131).
Osteomielitis adalah radang sumsum tulang (Ramali, 2002, hal 244).

B. KLASIFIKASI
Pembagian osteomielitis yang lazim menurut Arif Mansjoer (2000, hal 358) :
1. Osteomielitis primer, yang disebabkan penyebaran secara hematogen dari fokus lain, osteomielitis primer dapat dibagi menjadi osteomielitis akut dan kronik.
2. Osteomielitis sekunder atau osteomielitis perkontinuitanum yang disebabkan penyebaran kuman dari sekitarnya, seperti bisul dan luka.
Menurut Sjamsuhidajat (1997, hal 1.221-1.222) osteomilitis dibagi menjadi dua, antara lain:
1. Osteomielitis akut
Infeksi tulang panjang yang disebabkan oleh infeksi lokal atau trauma tulang.
2. Osteomielitis kronis
Osteomilitis akut yang tidak diterapi secara adekuat.
C. ETIOLOGI
Organisme penyebab umum menurut Sachdeva (1996, hal 92) :
1. Staphylococcus aureus
2. Streptococcus pyogenes
3. Pneumococcus
4. Escherichia coli

D. FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi menurut Sachdeva (1996, hal 92) :
1. Umur
Umumnya terdapat pada bayi dan anak-anak.
2. Jenis kelamin
Lebih sering pada laki-laki daripada wanita.
3. Lokasi
Cenderung mengenai metafisis tulang panjang.
4. Fokus septik yang ada di dalam tubuh
Bisul, furunkel, infeksi telinga, tonsilitis, dan lain-lain.
5. Higiene yang buruk.
6. Penyakit yang melemahkan.
7. Fraktur terbuka.

E. Manifestasi Klinik
menurut Sachdeva (1996, hal 93) gejala penyakit yang paling umum ialah rasa nyeri yang perlahan-lahan meningkat, keparahannya sehingga menderita demam dan toksik dalam waktu 48 jam. Tanda fisik yang penting ialah nyeri tekan lokal dekat metafisis.
Menurut Elizabet J Corwin (2001, hal 301) : gejala – gejala osteomielitis hematogen antara lain adalah demam, menggigil dan keengganan menggerakkan anggota badan yang sakit. Pada orang dewasa, gejala mungkin samar dan berupa demam, lemah dan malaise. Infeksi saluran nafas, saluran kemih, telinga atau kulit sering mendahului osteomielitis hematogen.
Osteomielitis eksogen biasanya disertai tanda-tanda cedera dan peradangan ditempat nyeri. Terjadi demam dan pembesaran kelenjar getah bening regional.
Menurut M.A. Handerson (1997 : 213/215) gejala pada osteomilitis akut yaitu nyeri tekan akut pada daerah tulang yang sakit, nyeri bila bagian yang sakit digerakkan. Tanda fisiknya yaitu pembengkakan dan kemerahan, pyrexia, panas tinggi. Sedangkan pada osteomilitis kronik gejalanya yaitu nyeri pada tulang yang kumat-kumatan selama suatu jangka waktu yang panjang. Tanda fisiknya pada pemeriksaan sinar memperlihatkan adanya kavitasi.

F. PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang berperan dalam menimbulkan penyakit yaitu virulensi organisme dan kerentanan hospes dengan status imun yang rendah. Penyakit ini lebih terbatas pada metafisis tulang karena pembuluh darah cenderung melingkari metafisis sehingga memungkinkan emboli terinfeksi menyangkut di daerah itu dan lapisan epifisis dapat mencegah penyebaran infeksi ke sendi sehingga infeksi terkoalisir di metafisis. Itulah sebabnya mengapa infeksi terjadi pada lapisan metafisis tulang yang mengalami pertumbuhan pada anak-anak. Tetapi pada orang dewasa terjadi di diafisis.. Emboli yang terinfeksi menyangkut di dalam pembuluh darah, menyebabkan trombosis sehingga mengakibatkan nekrosis avaskuler pada bagian korteks tulang. Respons peradangan terhadap infeksi mengakibatkan suhu tubuh meningkat dan terjadi oedem dan mengakibatkan terangkatnya periosteum dari tulang sehingga memutuskan lebih banyak suplai darah. Pengangkatan periosteum ini menimbulkan nyeri hebat, apalagi dengan adanya tegangan eksudat dibawahnya, infeksi dapat pecah ke subperiosteal kemudian menembus subkutis dan menyebar menjadi selulitis atau menjalar melalui rongga subperiosteal ke diafisis. Infeksi juga dapat pecah ke bagian tulang diafisis melalui kanalis medularis, penjalaran subperiosteal ke arah diafisis akan memasuki pembuluh darah yang ke diafisis sehingga menyebabkan nekrosis tulang. Tulang yang mengalami nekrosis dikenal sebagai sekuestrum. Tulang dimana periosteum terangkat melapisi tulang yang mati dikenal dengan involukrum. Pus mencari jalan keluar dari lapisan tulang baru melalui serangkaian lubang yang dikenal dengan kloaka (Sachdeva, 1996, hal 92 dan Sjamsuhidayat, 1997,1221)..
























G. PATHWAY KEPERAWATAN
 Fr. Terbuka Fokus Septik  Hygiene yg buruk

Organisme
Metafisis/Diafisis

Proses Infeksi  Suhu tubuh meningkat

Penyebaran

Korteks   Periosteum  Persendian

Abses  Abses jar. Lunak Pengangkatan  Aliran darah
subperiosteal  periosteum  meningkat

Menembus kulit Menekan pembuluh darah Bengkak
Fistula suplai darah terputus
   Intoleransi akt.
Sekuester  
Kurang informasi
 
potensial
terhadap
infeksi

Ketidaktahuan ttg kebutuhan
Pengobatan



Sumber  Sachdeva, 1996 hal 93
Sjamsuhidayat W. De Jong, hal 1221
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pada fase akut ditemukan CRP (protein C-Reaktif) yang meninggi, Laju Endap Darah (LED) meninggi dan leukositosis.
2. Pemeriksaan Radiologik
Pada fase akut gambaran radiologik tidak menunjukkan kelainan pada fase kronik ditemukan suatu involukrum dan sekuester.

I. FOKUS KEPERAWATAN
1. Pengkajian
Pengkajian menurut Susan Martin Tucker (1998, hal 429)
Observasi/temuan :
Data subyektif :
Nyeri meningkat dengan adanya gerakan.
Kelemahan.
Sakit kepala.
Data obyektif :
Kemerahan dan pembengkakan pada sendi yang terkena,
Menggigil.
Peningkatan suhu tubuh yang cepat.
Spasme otot di sekitar sendi sakit.
Takikardia.
Gelisah.
Mudah tersinggung.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Gangguan mobilitas fisik yang berhubungan dengan nyeri dan bengkak sendi (Tucker, S.M., 1998, hal 430).
Kriteria hasil :
1) Penggunaan mobilitas dan persendian meningkat.
2) Keikutsertaan dalam perawatan diri sendiri meningkat.
3) Edema berkurang.
Intervensi :
1) Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik atau rekreasi.
Rasional  : Memberikan kesempatan untuk mengeluarkan energi, memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol diri atau harga diri dan membantu menurunkan isolasi sosial.
2) Instruksikan pasien untuk bantu dalam rentang gerak pasif atau aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tak sakit.
Rasional  : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung.
3) Berikan atau bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat, sesegera mungkin.
Rasional  Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (contoh Flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ.
4) Awasi TD dengan melakukan aktivitas.
Rasional  : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus (contoh kemiringan meja dengan peninggian secara bertahap sampai posisi tegak).

Asuhan Keperawatan Osteoartritis; Kelainan Sendi Degeneratif

ASUHAN KEPERAWATAN OSTEOARTRITIS
KELAINAN SENDI DEGENERATIF

A. Pengertian
Osteoartritis yang dikenal sebagai penyakit sendi degeneratif atau osteoartrosis (sekalipun terdapat inflamasi ) merupakan kelainan sendi yang paling sering ditemukan dan kerapkali menimbulkan ketidakmampuan (disabilitas). (Smeltzer , C Suzanne, 2002 hal 1087)
Osteoartritis merupakan golongan rematik sebagai penyebab kecacatan yang menduduki urutan pertama dan akan meningkat dengan meningkatnya usia, penyakit ini jarang ditemui pada usia di bawah 46 tahun tetapi lebih sering dijumpai pada usia di atas 60 tahun. Faktor umur dan jenis kelamin menunjukkan adanya perbedaan frekuensi (Sunarto, 1994, Solomon, 1997).
Sedangkan menurut Harry Isbagio & A. Zainal Efendi (1995) osteoartritis merupakan kelainan sendi non inflamasi yang mengenai sendi yang dapat digerakkan, terutama sendi penumpu badan, dengan gambaran patologis yang karakteristik berupa buruknya tulang rawan sendi serta terbentuknya tulang-tulang baru pada sub kondrial dan tepi-tepi tulang yang membentuk sendi, sebagai hasil akhir terjadi perubahan biokimia, metabolisme, fisiologis dan patologis secara serentak pada jaringan hialin rawan, jaringan subkondrial dan jaringan tulang yang membentuk persendian.( R. Boedhi Darmojo & Martono Hadi ,1999)
B. KLASIFIKASI
Osteoartritis diklasifikasikan menjadi :
a. Tipe primer ( idiopatik) tanpa kejadian atau penyakit sebelumnya yang berhubungan dengan osteoartritis
b. Tipe sekunder seperti akibat trauma, infeksi dan pernah fraktur
(Long, C Barbara, 1996 hal 336)



C. Penyebab
Beberapa penyebab dan faktor predisposisi adalah sebagai berikut:
1. Umur
Perubahan fisis dan biokimia yang terjadi sejalan dengan bertambahnya umur dengan penurunan jumlah kolagen dan kadar air, dan endapannya berbentuk pigmen yang berwarna kuning.
2. Pengausan (wear and tear)
Pemakaian sendi yang berlebihan secara teoritis dapat merusak rawan sendi melalui dua mekanisme yaitu pengikisan dan proses degenerasi karena bahan yang harus dikandungnya.
3. Kegemukan
Faktor kegemukan akan menambah beban pada sendi penopang berat badan, sebaliknya nyeri atau cacat yang disebabkan oleh osteoartritis mengakibatkan seseorang menjadi tidak aktif dan dapat menambah kegemukan.
4. Trauma
Kegiatan fisik yang dapat menyebabkan osteoartritis adalah trauma yang menimbulkan kerusakan pada integritas struktur dan biomekanik sendi tersebut.
5. Keturunan
Heberden node merupakan salah satu bentuk osteoartritis yang biasanya ditemukan pada pria yang kedua orang tuanya terkena osteoartritis, sedangkan wanita, hanya salah satu dari orang tuanya yang terkena.
6. Akibat penyakit radang sendi lain
Infeksi (artritis rematord; infeksi akut, infeksi kronis) menimbulkan reaksi peradangan dan pengeluaran enzim perusak matriks rawan sendi oleh membran sinovial dan sel-sel radang.
7. Joint Mallignment
Pada akromegali karena pengaruh hormon pertumbuhan, maka rawan sendi akan membal dan menyebabkan sendi menjadi tidak stabil/seimbang sehingga mempercepat proses degenerasi.
8. Penyakit endokrin
Pada hipertiroidisme, terjadi produksi air dan garam-garam proteglikan yang berlebihan pada seluruh jaringan penyokong sehingga merusak sifat fisik rawan sendi, ligamen, tendo, sinovia, dan kulit.
Pada diabetes melitus, glukosa akan menyebabkan produksi proteaglikan menurun.
9. Deposit pada rawan sendi
Hemokromatosis, penyakit Wilson, akronotis, kalsium pirofosfat dapat mengendapkan hemosiderin, tembaga polimer, asam hemogentisis, kristal monosodium urat/pirofosfat dalam rawan sendi.

D. Patofisiologi
Penyakit sendi degeneratif merupakan suatu penyakit kronik, tidak meradang, dan progresif lambat, yang seakan-akan merupakan proses penuaan, rawan sendi mengalami kemunduran dan degenerasi disertai dengan pertumbuhan tulang baru pada bagian tepi sendi.
Proses degenerasi ini disebabkan oleh proses pemecahan kondrosit yang merupakan unsur penting rawan sendi. Pemecahan tersebut diduga diawali oleh stress biomekanik tertentu. Pengeluaran enzim lisosom menyebabkan dipecahnya polisakarida protein yang membentuk matriks di sekeliling kondrosit sehingga mengakibatkan kerusakan tulang rawan. Sendi yang paling sering terkena adalah sendi yang harus menanggung berat badan, seperti panggul lutut dan kolumna vertebralis. Sendi interfalanga distal dan proksimasi.
Osteoartritis pada beberapa kejadian akan mengakibatkan terbatasnya gerakan. Hal ini disebabkan oleh adanya rasa nyeri yang dialami atau diakibatkan penyempitan ruang sendi atau kurang digunakannya sendi tersebut.
Perubahan-perubahan degeneratif yang mengakibatkan karena peristiwa-peristiwa tertentu misalnya cedera sendi infeksi sendi deformitas congenital dan penyakit peradangan sendi lainnya akan menyebabkan trauma pada kartilago yang bersifat intrinsik dan ekstrinsik sehingga menyebabkan fraktur ada ligamen atau adanya perubahan metabolisme sendi yang pada akhirnya mengakibatkan tulang rawan mengalami erosi dan kehancuran, tulang menjadi tebal dan terjadi penyempitan rongga sendi yang menyebabkan nyeri, kaki kripitasi, deformitas, adanya hipertropi atau nodulus. ( Soeparman ,1995)

PATHWAY

E. Gambaran Klinis
1. Rasa nyeri pada sendi
Merupakan gambaran primer pada osteoartritis, nyeri akan bertambah apabila sedang melakukan sesuatu kegiatan fisik.
2. Kekakuan dan keterbatasan gerak
Biasanya akan berlangsung 15 – 30 menit dan timbul setelah istirahat atau saat memulai kegiatan fisik.
3. Peradangan
Sinovitis sekunder, penurunan pH jaringan, pengumpulan cairan dalam ruang sendi akan menimbulkan pembengkakan dan peregangan simpai sendi yang semua ini akan menimbulkan rasa nyeri.
4. Mekanik
Nyeri biasanya akan lebih dirasakan setelah melakukan aktivitas lama dan akan berkurang pada waktu istirahat. Mungkin ada hubungannya dengan keadaan penyakit yang telah lanjut dimana rawan sendi telah rusak berat.
Nyeri biasanya berlokasi pada sendi yang terkena tetapi dapat menjalar, misalnya pada osteoartritis coxae nyeri dapat dirasakan di lutut, bokong sebelah lateril, dan tungkai atas.
Nyeri dapat timbul pada waktu dingin, akan tetapi hal ini belum dapat diketahui penyebabnya.
5. Pembengkakan Sendi
Pembengkakan sendi merupakan reaksi peradangan karena pengumpulan cairan dalam ruang sendi biasanya teraba panas tanpa adanya pemerahan.
6. Deformitas
Disebabkan oleh distruksi lokal rawan sendi.
7. Gangguan Fungsi
Timbul akibat Ketidakserasian antara tulang pembentuk sendi.



F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
- Foto Rontgent menunjukkan penurunan progresif massa kartilago sendi sebagai penyempitan rongga sendi
- Serologi dan cairan sinovial dalam batas normal

G. PENATALAKSANAAN
a. Tindakan preventif
- Penurunan berat badan
- Pencegahan cedera
- Screening sendi paha
- Pendekatan ergonomik untuk memodifikasi stres akibat kerja
b.Farmakologi : obat NSAID bila nyeri muncul
c. Terapi konservatif ; kompres hangat, mengistirahatkan sendi, pemakaian alat- alat ortotik untuk menyangga sendi yang mengalami inflamasi
d. Irigasi tidal ( pembasuhan debris dari rongga sendi), debridemen artroscopik,
e. Pembedahan; artroplasti

H. Pengkajian
1. Aktivitas/Istirahat
- Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan memburuk dengan stress pada sendi, kekakuan pada pagi hari, biasanya terjadi secara bilateral dan simetris limitimasi fungsional yang berpengaruh pada gaya hidup, waktu senggang, pekerjaan, keletihan, malaise.
Keterbatasan ruang gerak, atropi otot, kulit: kontraktor/kelainan pada sendi dan otot.

2. Kardiovaskuler
- Fenomena Raynaud dari tangan (misalnya pucat litermiten, sianosis kemudian kemerahan pada jari sebelum warna kembali normal.

3. Integritas Ego
- Faktor-faktor stress akut/kronis (misalnya finansial pekerjaan, ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan.
- Keputusasaan dan ketidakberdayaan (situasi ketidakmampuan).
- Ancaman pada konsep diri, gambaran tubuh, identitas pribadi, misalnya ketergantungan pada orang lain.
4. Makanan / Cairan
- Ketidakmampuan untuk menghasilkan atau mengkonsumsi makanan atau cairan adekuat mual, anoreksia.
- Kesulitan untuk mengunyah, penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. Hygiene
- Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas perawatan diri, ketergantungan pada orang lain.

6. Neurosensori
- Kesemutan pada tangan dan kaki, pembengkakan sendi

7. Nyeri/kenyamanan
- Fase akut nyeri (kemungkinan tidak disertai dengan pembengkakan jaringan lunak pada sendi. Rasa nyeri kronis dan kekakuan (terutama pagi hari).

8. Keamanan
- Kulit mengkilat, tegang, nodul sub mitaneus
- Lesi kulit, ulkas kaki
- Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga
- Demam ringan menetap
- Kekeringan pada mata dan membran mukosa

9. Interaksi Sosial
- Kerusakan interaksi dengan keluarga atau orang lain, perubahan peran: isolasi.

10. Penyuluhan/Pembelajaran
- Riwayat rematik pada keluarga
- Penggunaan makanan kesehatan, vitamin, penyembuhan penyakit tanpa pengujian
- Riwayat perikarditis, lesi tepi katup. Fibrosis pulmonal, pkeuritis.

11. Pemeriksaan Diagnostik
Photobucket