Senin, 02 Januari 2012

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DERMATITIS DAN EXZEMA.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA DERMATITIS DAN EXZEMA.


I. EXZEMA / DERMATITIS.


A. DEFINISI.

Merupakan reaksi inflamasi kulit terhadap unsur – unsur fisik, kimia, biologi.( brunner and suddarth , 2002 )
Reaksi peradangan kulit yang karacteristic terhadap berbagai rangsangan endogen ataupun exogen ( harahap M. 2000 ).
Exzema dari bhs yunani “ eksein” : menggambarkna epidermis mengalami spongioisis yaitu adanya vesikula intraepidermal yang terjadi karena adanya edema interseluler.

B. Tipe dermatitis secara umum.

A. Dermatitis endogen
B. Dermatitis eksogen
C. Dermatitis yang belum jelas penyebabnya.

1. Dermatitis endogen terbagi menjadi: 
Dermatitis atopik, seboroik, liken simpleks kronis, dermatitis nonspesifik ( pompoliks, D. numuler, D. xerotik, D. otosensitisasi ) dan D. karena obat.
2. Dermatitis Eksogen terbagi menjadi : kontak iritan, D. kontak iritan, D. foto alergik, D. infektif, Dan dermatofitid.

A. Dermatitis .
a. Macam – macam dermatitis.
Dermatitis atopik adalah dermatitis yanmg tejadi pada seseorang yang mempunyairiwayat atopi.

Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit yang sering terjadi pada daerah tubuh berambut terutam pada kulit kepala alis mata dan muka, kronik dan superfisialis.

Liken simplek kronik adalah dermatitis dengan penebalan kulit dari jaringan tanduk karena garukan ataugosokan yang berulang – ulang.

Dermatitis stasis adalah dermatitis yangterjadi akibat adanya gangguan aliran darah vena ditungkai bawah.

Dermatitis / exzema nonspesifik adalah suatu erupsi epidermal yang dapat berlangsung akut, kranik, terlokalisasi dan generalis.

D. Pomfolik  adalah dermatitis yang ditandai dengan adanya vesikula yang dalam, mengenai telapak tangan / kaki, dan jari – jari.

D. otosensitisasi  merupakan perluasan yang ceapat dari reksi exzematus atau vesikuler.

D. numuler adalah  dermatitis yang bentuk lesinya bulat seperti uang logam.

D. xerotik merupakan dermatitis yang terjadi pada musim dingin dan banyak dijumpai pada orang tua dan punya predisposisi.

D. medikamentosa adalah peradangan pada kulit akibat reaksi dari obat.

D. kontak adalah dermatitis yang disertai dengan adanya spongiosis / edema interseluler pada epidermis karena kulit berinteraksi langsung dengan bahan kimia.

D. infektif  adalah dermatitis yang disebabkan oleh mikroorganisme atau produknya dan menyembuh jika organismenya sudah diobati.

Dermatofitid : adalah Reaksi alergi dari dermatifites

D. eksfolatifa generalisata adalah peradangan yang ditandai dengan adanya eritema, dan skuama yang hampir mengenai seluruh tubuh.

a. Pengertian dermatitis Atopik.
Sinonim : prurigo besnier, neurodermatitis, desimenata, exzema konstitusional.
DA adalah dermatitis yg terjadi pada orang yang mempunyai riwayat atopi. 
Atopi bersal dari bhs yunani “ berarti”:   penyakit aneh / hipersensitivitas.

b. Etiologi.
Bahan iritan, allergen ( sabun, deterjen, bahan pembersih, dan kimia industri yang lain).

c. Manifestasi klinik.
Rasa gatal, eritema, perubahan histologik dengan sel Radang yang bulat,
edema eridermal yang spongiostik, edema, papula, vesikel serta perembasan
cairan atau secret, pengelupasan kulit, likenifikasi, pigmentasi.
Sering terjadi pada muka, lipatan kulit ( fosa cubiti, poplitea ).
Pembentukan krusta, pengeringan, pembentukan fissura. 
d. Faktor predisposisi 
- Asma, konjungtivitis alergik, rinitis alergika, urtikaria dan Reaksi dari
makanan.
- Keadaan panas dingin yang extrem
- Kontak dengan iritan dengan frekuensi yang sering
- Penyakt kulit yang ada sebelumnya.

e. Patofisiologi
Peningkatan Imunoglobin E ( Ig E ) dalam darah / tubuh serta terjadi
peningkatan histamin kulit dan darah sebagai marker untuk adanya aktifitas
sel mast dan basofil.
Sel langerhans juga meningkat.

Pada lesi yang akut djumpai spongiosis, vesikula, dan edema interselular, sel peradangan yang domonan adalah limfosit. Sel endotel mengalami hipertropi, pada lesi likenifikasi  yang kronis dijumpai penebalan epidermal serabut saraf mengalami demielinisasi dan sclerosis akibat dari iskemi.

- faktor turunan atauy genetic juga bisa, yang diturunkan secara outosomal, resesif autosomal, dan multifactoral.
- Faktor imunologi :  Peningkatan Imunoglobin E ( Ig E ) dalam darah / tubuh serta terjadi peningkatan histamin kulit dan darah sebagai marker untuk adanya aktifitas sel mast dan basofil.
Peningkatan aktivitas limfosit karena pengaruh dari IL –4 , yang dipengaruhi oleh aktifitas sel T helper.
sel TH2 merangsang sel B memproduksi Ig E.

f. Diagnosis 
Dagnosis ditegakan apabila ada tiga criteria mayor dan ditambah 3 kriteria minor , serta criteria Svensson, criteria William dan criteria berdasarkan SCORAD yang menggunakan foto berwarna.

g. Penatalaksanaan.
1. Tindakan umum: 
- Memberitahu rencana pengobatan yang akan diberikan pada klien
- keluarga.
- Latihan gerak ringan untuk menghilangkan gelisah.
- Mempertahankan kelembaban ruangan  50% - 60 % untuk mencegah
- kekeringan kulit.
- Mandi berendam denga air yang telah ditambah bahan minyak .
- Hindari rangsanga pada kult .
- Hindari bahan pembersih yang dapa tmerangsang kulit.
- Hindari faktor pencetus.( seperti makanan, mikroba, allergen dll ) 


2. Pengobatan :
- kortikosteroid.
- Antihistamin.( klorfenraminel, hydroxizine dll.)
- Antibiotik : kloxasiline, eritromisine, sefalosporin dll.)
- Hindari faktor penyebab.
- Kompres yang sejuk dan basah.

Perhatian 

Untuk mencegah dermatitis berulang :
- Pelajari  pola dan lokasi dermatitis dan coba ingat benda apa yang terakhir emnempel pada pada kult.
- Hindari benda / bahan yang dapat menyebabkan Reaksi dermatitis.
- Hindari panas, sabun, dan gosokan,
- Hindari pemakain obat secara bebas. 
- Mengistirahatkan kulit yang sakit dan melindungi dari kerusakan lebih lanjut.


I. Pengkajian.

1). Riwayat kesehatan ( awitan , tanda dan gejala, lokasi, dan durasi nyeri, gatal – gatal, ruam gangguan ras nyaman).
2). Riwayat alergi kulit
3). Reaksi lergi t erhadap makanan
4). Raeksi alergi terhadap obat kimia
5). Riwayat penyakit kulit sebelumnya.
6). Riwayat kanker.


II. Diagnosis dan Intervensi.

a. kerusakan integritas kulit b/d kerusakan barier kulit
- lindungi kulit yang sehat terhadap kemungkinan maserasi.
- Hilangkan kelembaban dengan menutulkan untuk menghisap dan menghindari friksi.
- Jaga dengan cermat terhadap resiko terjadinya cidera termal akibat penggunaan compress hangat dengan suhu yang terlalu tinggi.
- Anjurkan pasien menggunakan kosmetik dan preparat tabir surya.







b. Nyeri dan gatal b/ d lesi kulit.
1. Periksa daerah yang terlibat:
Upayakan untuk mnenemukan penyebab gangguan rasa nyaman
Mencatat hasik obervasi secra rinci dengan memekai terminology deskriptif.
Mengantisipasi Reaksi alergi yang mungkin terjadi.

2. Kendalikan faktor – faktor iritan:

Perthankan kelembaban  kira- kira 50 % gunakbn alat pelembab.
Pertahankan lingkungan yang dingin.
Gunakan sabun ringan 
Lepaskan kelebihan pakaian dan peralatan ditempat tidur.
Hentikan pemajanan berulang terhadap deterjen pembersih dan pelarut.

c. Gangguan citra tubuh b/d penampakan kulit yang tidak baik.

1. Kaji adanya gangguan citra tubuh
2. Identifikaasi stadium psikososial tahap perkembangan
3. Berikan kesempatan untuk pengungkapan.
4. Beikan support pada klien untuk mengenal dirinya dan mengembangkan dan memperbaiki citra diri.
5. Membantu klien kearah penerimaan diri.
6. Mendorong sosialisasi dengan orang lain.
7. Memberikan nasehat kepada klien mengenai cra – cara perawatan kosmetik untuk menyembunyikan kondisi kulit yang abnormal.

d. Kurang pengetahuan tentang perawatan kulit.
1. Tentukan  apakah pasien mengetahui tentang kondisi dirinya.
2. Jaga agar klien mendapatkan informasi yang benar memperbaiki kesl;ahanperepsi.
3. peragaan penerapan terapi yan diprogramkan.
4. Berikan nasehat kapada pasien untuk menjaga agar kulit tetap lembab dan fleksibel dengan tindakan hidarsi dan pengolesan krim serta losionkulit.
5. Dorong pasien untuk mendapatkan status nutrisi yang sehat.
V. Evaluasi.

Hasil yang diharapkan :

1. Pemeliharaan / mempertahankan integriras kulit.

- menunjukan tidak adanya keretakan kulit.
- Melindungi kulit terhadap kontak dengan substansi yang iritatif.
- Mengoleskan preparat emolien pada kulit
2. Memenuhi kebutuhan rasa aman dan nyaman.
o Menggunakan preparat topical dan menjalani terapi yang telah diprogramkan.
o Melaporkan peredaran rasa gatal.

3. memperlihatkan Pengembangan peningkatan penerimaan diri;

- lebuh sedikit mengucapkan kata – kata yang mencela diri.
- Memberikan perhatian terhadap penampakan diri.

4. mencapai tidur yang lebih nyenyak.

o Menyatakan bahwa tidur lebih nyenyak.
o Melaporkan bahwa hidup lebih sehat.

5. Pemahaman tentang perwatan diri.

Mengucapkan dengan kata – kata dasar pemikiran untuk terapi yang diprogramkan.
Memperlhatkan kemampuan untuk melaksanakan perawatan diri.

Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari hanifin dan rajka

No Criteria moyor Criteria minor
1. Pruritus  Kulit kering ( xerosis ).
2. Adanya riwayat atopik Keratosis 
3. Kronis dan sering kambuh Reaktivits uji kulit tipe I 
4. Klinis dan distribusi yang khas:
Lipatan kulit mengalami likenifikasi.
Mengenai muka dan bagian extensor pada bayi dan anak – anak. Kadar Ig E meningkat.( > 2000 IU ).
Dimulai pada usia dini.( 3 – 6 bulan ).
Terdapat infeksi kulit.
Eksema pada putting susu
Cheilitis , konjungtivitis yang berulang – ulang,  dll.

Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari Svennson

No Kelompok I (nilai 3 ).
1. Perjalanan penyakit dipengaruhi musim
Xerosis.
Diperburuk dengan kegangan jiwa.
Kulit sangat kering.
Gatal pada kulit yang sehat saat berkeringat.
Serum Ig E 80 IU /ml.
Menderita rinitis alergik.
Iritasi dengan tekstil.
Eksema pada tangan pada masa kanak- kanak.dermatitis atopik.

2. Kelompok II ( nilai 2 ).
Kulit muka pucat
Dermatitis pada buku jari2x tangan.
Dermatitis nnumuler.
Penderita punya asma, keratosis, alergi thd makanan,.
Eksema putting susu.

3. Kelompok III ( nilai 1 ).
Pomfolik 
Iktiosis 
Lipatan denni – morga.


Criteria diagnosis Dermatitis Atopik dari William

Criteria Keterangan
Harus ada :  Rasa gatal( pada anak ada bekas garutan ).
Ditambah tiga / lebih Terkena daerah lipatan siku, paha, lutut, didepan mata kaki, sekitar leher,pada pipi untuk anak dibawah 10 tahun).
Anamnesis ada riwayat atropi, asma, demam.
Kulit kering secara menyeluruh.
Eksema pada lipatan ( termasuk pipi, kening badan luar [pada anak .< 4 tahun).
Mengenai umur <2 tidak digunakan untuk anak dibawah  tahun.



Tingkatan dermatitis atopik

No. Criteria Nilai
1. Luasnya kelainan kulit.
Fase anak – anak dan dewasa / remaja
< 9 % luas tubuh
9 %  - 36 % 
> 36 % luas tubuh. 1
2
3
2. Fase infantile
18 % luas tubuh terkena 
18 % - 54 % 
54 % luas tubuh terkena. 1
2
3
3. Perjalanan penyakit 
Remisi > 3 bulan dalam 1 tahun
Remisi < 3 bulan dalam 1 tahun
Kambuhan 1
2
3
4. Intensitas penyakit.
Gatal ringan kadang – kadang terganggu tidur.
Gatal sedang 
Gatal hebat selalu ganggu tidur. 1
2
3

Penilaian : 
3 – 4 : Ringan
4,5 – 7,5  : Sedang  
8,5 – 9  : Berat 

Stadium Exzema / Dermatitis.

No Stadium Pengobatan
1. Akut  ( ada vesikula, edema, eksudasi, krusta,, erosi )  Kompres da krim hyrofilik.
2. Subakut ( eritema, edema, papula, skuama yang basah ). Krim anti flogistik, pasta yang lembut.
3. Kronik ( deskuamasi yg kering, likenifikasi, infiltrat paula. ) Salap hydro s/d lipofilik.
4. Hyperkeratosis  Keratofilik, salap rehidrasi yang mnegandung asam salisil, urea, Nacl 4 – 12 jam tertutup.

5. Eksudasi , lesi maserasi. Keringkan dengan kompres yg mengandung air/ alkohol, /pasta.

5. Semua stadium  Mandi berendam.

Tipe – tipe preparat kortikosteroid topical yang sering digunakan.m

No  Potensi  Preparat kortikosteroid.
1. Paling rendah  Deksametason 0.1%
Hirokortison 0.25 – 2.5 %
Metilprednisolon  0.1/1 %

2. Rendah  Betametason 0.01 %
Klokortolon / cloderm 0.1 %
Hidrokortison valerat 0.2 %

3. Sedang  Betametason benzoat 0.01%
Cordran 0.05 %
4. Tinggi  Amsinonid / cyclokort  0.1 %
Halog 0.1 %
5. Paling tinggi  Betametason dipropionat 0.05 %
Klobetasol propionat 0.05%



























SATUAN ACARA PENGAJARAN DEMAM BERDARAH DENGUE

SATUAN ACARA PENGAJARAN DEMAM BERDARAH DENGUE

Pokok Bahasan : Upaya Pencegahan dan Pemberantasan DHF
Hari / Tanggal : Jumat / 23 Desember 2005
Waktu : 30 menit
Pengajar : Mahasiswa Semester V Prodi Keperawatan Semarang.
Tempat : Ruang C1 L2 RSDK Semarang
Sasaran : Pasien rawat inap di ruang anak C1 L2 dan orang tua.

I. Latar Belakang
Demam berdarah dengue atau DHF (Dengue Hemorrhagic Fever) atau yang sering disebut dengan penyakit demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada anak dan dewasa dengan gejala utamademam, nyeri otot dan sendi yang biasanya memburuk setelah 2 hari pertama. Gejala awal penyakit sulit diketahui penyebabnya, sehingga masyarakat menganggap hal itu sebagai demam biasa dan pertolongan penderita cenderung terlambat pada kondisi buruk. Kemiripan tanda dan gejala penyakit DHF dengan penyakit lain pada awal gejala, seperti halnya influenza, tifus, rubella, perlu diwaspadai oleh masyarakat, karena penyakit ini jika telah sampai pada tahapan syok biasanya akan berakhir dengan kematian.
DHF berjangkit di wilayah yang padat penduduk dan ditularkan melalui nyamuk aedes aegepty dengan kemampuan terbang 40-100 m, serta kebiasaan menggigit berulang secara bergantian pada beberapa orang dalam waktu singkat. Kasus DHF cenderung meningkat pada musim penghujan, karena perubahan musim mempengaruhi frekuensi gigitan nyamuk, jumlah gigitan yang terjadi pada siang dan sore hari. Selain itu, kecenderungan manusia untuk berlindung di dalam rumah pada saat musim penghujan juga meningkatkan kecepatan dan luasnya penularan penyakit DHF ini. Hal ini masih menunjukkan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat kita mengenai penyakit DHF meskipun pemerintah telah menggembarkan program 3M (Menguras, Menutup dan Mengubur) sebagai salah satu pencegahan.

II. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan pendidikan kesehatan tentang upaya pemberantasan dan pencegahan DHF diharapkan peserta didik mampu memahami dan mengerti tentang upaya pemberantasan dan pencegahan DHF.
b. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah diberikan pendidikan kesehatan ini diharapkan peserta didik mampu :
1. Mengetahui tentang pengertian DHF
2. Mengetahui penyebab DHF
3. Mengetahu tanda-tanda DHF
4. Mengetahui tentang program pemerintah dalam upaya pemberantasan DHF
5. Mengetahui tentang 3M.
III. Sasaran
Pasien rawat inap di ruang anak C1 L2 beserta orang tua atau pengunjung lain.

IV. Target
Peserta didik, terutama orang tua pasien dan pasien dengan DHF di ruang C1 L2 RSDK Semarang.

V. Pengorganisasian
Agar dalam penyuluhan nantinya berjalan lancar maka kami melakukan pembagian tugas sebagai berikut :

Moderator : Tri Agung Setyawan
Penyampai materi : Verasari Kusumaningrum
Fasilitator : Tri Wahyuni
Wiwik Markhamah
Observer : Y. Nilta Amni H.

VI. Strategi Pelaksanaan
Pelaksanaan penyuluhan akan dilaksanakan pada :
1. Tanggal : Jumat, 23 Desember 2005
2. Waktu : 09.00 – 09.30 WIB
3. Tempat : Ruang anak C1 L2 RSDK Semarang.
VII. Susunan Acara
No Acara Waktu
1.
2.



3. Pembukaan dan doa oleh moderator
Acara inti 
Penyuluhan kesehatan
-   Tanya jawab
- Evaluasi
Penutup dan doa 5 menit

10 menit
5 menit
5 menit
5 menit 
Total Waktu 30 menit

VIII. Metode Pengajaran
a. Ceramah
b. Tanya jawab

IX. Media Pengajaran
a. Leaflet
b. Materi pengajaran






X. Setting Tempat

Keterangan
A : Moderator
B : Penyampai materi
C : Fasilitator
D : Peserta
E : Observer

XI. Materi Pengajaran 
a. Pengertian DHF
b. Penyebab DHF
c. Tanda-tanda DHF
d. Program pemerintah dalam upaya pemberantasan dan pencegahan DHF
e. 3 M

XII. Evaluasi
Kriteria Evaluasi
a. Evaluasi Struktural
1. Kesepakatan pertemuan dengan peserta didik
2. Kesiapan tim penyuluhan dari mahasiswa tingkat 3 Prodi Keperawatan Semarang.

b. Evaluasi Proses
1. Peserta
- 2/3 peserta didik mengikuti kegiatan sampai selesai.
- Pertemuan berjalan dengan lancar.
2. Tim Mahasiswa tingkat 3 Prodi Keperawatan Semarang
- Bisa memfasilitasi jalannya penyuluhan.
- Bisa menjalankan perannya sesuai tugas dan tanggungjawab.
c. Evaluasi Hasil
1. Tes lisan : di akhir ceramah
2. Penilaian
Sistem penilaian sesuai dengan masing-masing pertanyaan tiap nomor :
Nomor 1 bila benar semua nilai 2 point
Nomor 2 bila benar semua nilai 2 point
Nomor 3 bila benar semua nilai 2 point
Nomor 4 bila benar semua nilai 2 point
Nomor 5 bila benar semua nilai 2 point
Jumlah nilai benar pada soal 10 point
Klasifikasi penilaian :
Bila nilai benar 0 – 3 = C, berarti kurang memahami
Bila nilai benar 4 – 6 = B, berarti cukup memahami
Bila nilai benar 7 – 10 = A, berarti paham dan mengerti

XIII. Daftar Pertanyaan
1. Tanya  Apakah yang dimaksud dengan DHF ?
Jawab : DHF atau yang lazim disebut Demam Berdarah yaitu infeksi akut yang disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina.

2. Tanya : Apakah penyebab DHF ?
Jawab : DHF disebabkan oleh penularan virus yang dibawa masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina.

3. Tanya : Sebutkan tanda-tanda DHF ?
Jawab : Demam tinggi lebih dari 2 hari, terjadi pada hari ke 3-5
Nyeri kepala dan nyeri ulu hati.
Pada hari ke 3-ke 5 muncul ruam.
Menggigil
Pada stadium lanjut terjadi muntah darah dan mimisan.

4. Tanya : Sebutkan program pemerintah dalam upaya pemberantasan dan pencegahan DHF ?
Jawab : Fogging atau pengasapan.
Abatisasi : Menaburkan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air.
Penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD.
5. Tanya : Apakah 3 M itu ?
Jawab : Menutup tempat-tempat penampungan air.
Menguras tempat-tempat penampungan air minimal 2 kali dalam 1 minggu.
Mengubur barang-barang bekas.

DHF
A. Pengertian
DHF (Dengue Haemorhagic Fever) atau yang lazim disebut Demam Berdarah yaitu infeksi akut yang disebabkan oleh virus yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina yang dapat menggigit berkali-kali.
Pengertian lain adalah infeksi akut yang ditandai dengan demam mendadak dan terjadi perdarahan baik di kulit maupun bagian tubuh yang lain. Masa inkubasinya adalah 3-13 hari, rata-rata 5-8 hari.
DHF terutama menyerang anak, remaja dan dewasa dan seringkali menyebabkan kematian bagi penderita.

B. Penyebab
DHF disebabkan oleh penularan virus yang dibawa oleh virus yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk aedes aegepty betina.
Cara penularannya adalah apabila anak yang sakit DHF di dalam darahnya mengandung virus. Bila anak digigit nyamuk aedes aegepty maka bibit penyakit itu terhisap masuk dalam tubuh nyamuk. Dan bila nyamuk tersebut menggigit anak lain (anak sehat) maka anak itu akan dapat tertular penyakit ini.

C. Tanda DHF
Demam 
Terjadi pada hari ke 3-5, mendadak, artinya bila anak kelihatan sehat, mendadak menderita demam tinggi.
Perdarahan spontan
Petekie merupakan perdarahan kulit spontan yang paling sering dijumpai, maka petekie yang dibuat dengan melalui tes torniket
Hepatomegali
Separuh dari kasus DHF disertai hepatomegali yang semula tak teraba, tiba-tiba membengkak. Gejala lain yang mengikuti hepatomegali adalah nyeri perut di daerah ulu hati dan hipokondrium kanan.
Demam menggigil
Pada stadium lanjut terjadi muntah darah dan mimisan.

D. Program Pemberantasan dan Penanganan DHF
Fogging atau pengasapan.
Yaitu upaya penyemprotan di lingkungan rumah penduduk.
Abatisasi
Yaitu menaburkan bubuk abate di tempat-tempat penampungan air.
Penyuluhan dan penggerakan masyarakat dalam PSN DBD.


E. 3 M
3 M merupakan pengertian dari :
Menutup tempat-tempat penampungan air.
Menguras tempat-tempat penampungan air minimal 2 kali dalam 1 minggu.
Mengubur barang-barang bekas agar tidak menjadi tempat berkembang biak nyamuk.


Kamis, 22 Desember 2011

Perawatan Luka Post Operasi dan Angkat Jahitan

PERAWATAN LUKA POST OPERASI DAN ANGKAT JAHITAN


A. PENGERTIAN
Suatu penanganan luka yang terdiri dari membersihkan luka, mengangkat jahitan, menutup dan membalut luka sehinga dapat membantu proses penyembuhan luka.

B. TUJUAN
1. Mencegah terjadinya infeksi.
2. Mempercepat proses penyembuhan luka.
3. Meningkatkan kenyamanan fisik dan psikologis.

C. PERSIAPAN
a. Alat
Set perawatan luka dan angkat jahitan dalam bak instrumen steril :
- Sarung tangan steril.
- Pinset 4 (2 anatomis, 2 cirurgis)
- Gunting hatting up.
- Lidi waten.
- Kom 2 buah.
- Kasa steril.
Plester
Gunting perban
Bengkok 2 buah
Larutan NaCl
Perlak dan alas
Betadin
Korentang
Alkohol 70%
Kapas bulat dan sarung tangan bersih

b.  Lingkungan
- Menutup tirai / jendela.
- Merapikan tempat tidur.

c.  Pelaksanaan
- Mengatur posisi sesuai dengan kenyamanan pasien.
- Menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan.
- Inform Consent.

D. PROSEDUR PELAKSANAAN
1. Jelaskan prosedur pada klien dengan menggambarkan langkah-langkah perawatan luka.
2. Dekatkan semua peralatan yang diperlukan.
3. Letakkan bengkok dekat pasien.
4. Tutup ruangan / tirai di sekitar tempat tidur.
5. Bantu klien pada posisi nyaman.
6. Cuci tangan secara menyeluruh.
7. Pasang perlak dan alas.
8. Gunakan sarung tangan bersih sekali pakai dan lepaskan plester. Angkat balutan dengan pinset.
9. Lepaskan plester dengan melepaskan ujung dan menariknya dengan perlahan, sejajar pada kulit dan mengarah pada balutan.
10. Dengan sarung tangan/pinset, angkat balutan.
11. Bila balutan lengket pada luka, lepaskan dengan memberikan larutan NaCl.
12. Observasi karakter dan jumlah drainase.
13. Buang balutan kotor pada bengkok, lepaskan sarung tangan dan buang pada bengkok yang berisi Clorin 5%.
14. Buka bak instrumen, siapkan betadin dan larutan NaCl pada kom, siapkan plester, siapkan depres.
15. Kenakan sarung tangan steril.
16. Inspeksi luka, perhatikan kondisinya, letak drain, integritas jahitan dan karakter drainase serta palpasi luka (kalau perlu).
17. Bersihkan luka dengan larutan NaCl dan betadin dengan menggunkan pinset. Gunakan satu kasa untuk setiap kali usapan. Bersihkan dari area yang kurang terkontaminasi ke area yang terkontaminasi. Gunakan dalam tekanan progresif menjauh dari insisi/tepi luka.
18. Gunakan kasa baru untuk mengeringkan luka/insisi. Usap dengan cara seperti pada langkah 17.
19. Melepaskan jahitan satu persatu selang seling dengan cara : menjepit simpul jahitan dengan pinset cirurgis dan ditarik sedikit ke atas kemudian menggunting benang tepat dibawah simpul yang berdekatan dengan kulit/pada sisi lain yang tidak ada simpul.
20. Olesi luka dengan betadin.
21. Menutup luka dengan kasa steril dan di plester.
22. Merapikan pasien.
23. Membersihkan alat-alat dan mengembalikan pada tempatnya.
24. Melepaskan sarung tangan.
25. Perawat mencuci tangan.

E. HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN
1. Pengangkatan balutan dan pemasangan kembali balutan dapat menyebabkan pasien terasa nyeri.
2. Cermat dalam menjaga kesterilan.
3. Mengangkat jahitan sampai bersih tidak ada yang ketinggalan.
4. Teknik pengangkatan jahitan di sesuaikan dengan tipe jahitan.
5. Peka terhadap privasi klien.

Hernia Inguinalis

HERNIA INGUINALIS

a. Pengertian
Hernia Inguinalis adalah Sutu penonjolan kandungan ruangan tubuh melalui dinding yang dalam keadaannormal tertutup. ( Richard E, 1992 )
Hernia Inguinalis adalah prolaps sebagian usus ke dalam anulus inginalis di atas kantong skrotum, disebabkan oleh kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital. ( Cecily L. Betz, 1997)

b. Etiologi
Hernia Inguinalis di sebabkan oleh :
a. Kelemahan atau kegagalan menutup yang bersifat kongenital
b. Anomali Kongenital
c. Sebab yang di dapat
d. Adanya prosesus vaginalis yang terbuka
e. Peninggian tekanan di dalam rongga perut
f. Kelemahan dinding perut karena usia
g. Anulus inguinalis yang cukup lama
c. Manifestasi Klinis
1. Menangis terus
2. muntah
3. Distensi Abdoman
4. Feses berdarah
5. Nyeri
6. Benjolan yang hilang timbul di paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau megedan dan menghilang setelah berbaring
7. Gelisah, kadang-kadang perut kembung
8. Konstipasi
9. Tidak ada flatus

d. Patologi dan patogenesis
Selama tahap-tahap akhir perkembangan prosesus vaginalis janin, suatu penonjolan peritoneum yang berasal dari cincin interna terbentang ke arah medial serta menuruni setiap kanalis inguinalis. Setelahmeninggalkan kanalis tersebut pada cincin eksterna, maka prosesus tersebut pada pria akan berbelok ke bawah memasuki skrotum dan akan membungkus testis yang sedang berkembang. Lumen biasanya menutup dengan sempurna sebelum lahir kecuali pada bagian yang membungkus testis. Bagian tersebut akan tetap tinggal sebagai suatu kantung potensial tunika vaginalis. Pada wanita prosesus tersebut terbentang mulai dari cincin eksterna hingga ke dalam labia mayora. Bagian proximal prosesus vaginalis dapat mengalami kegagalan penutupan sehingga membentuk suatu kentung hernia dimana viskus abdomaen dapat memasukinya. Bagian yang tetap terbuka itu dapat membantang ke bawah kadang-kadang hingga ke dalam kantung testis dan dapat menyatu dengan tunuka vaginalis sehingga bersama-sama membentuk suatu hernia lengkap.
Hernia inguinalis terutama sering di temukan pada bayi prematur. Di duga karena lebih sedikitnya waktu perkembangna di dalam kandungan serta lebih sedikitnya waktu bagi penutupan seluruh penutupan seluruh prosesus tersebut. Jika testis gagal untuk turun ( Kriptorkoid ), maka biasanya terdapat kantung hernia yang besar karena sesuatu telah menghentikan penurunan testis maupan penutupan prosesus peritoneum tersebut. Anak-anak dengan anomali kongnital terutama yang melibatkan daerah abdoman bagian bawah, pelvis atau perineum seringmempunyai hernia inguinalis sebagai bagian dari kompleks tersebut.














PATHWAY

Proximal prosesus vaginalis
Gagal menutup
Membentuk kantung hernia
Viskus abdomen masuk
Terbuka pindah lokasi  p’ngkatan tek intra abdomen&kelemahan otot dinding trigonum HasselBach
testis turun keskrotum
Membentang dalam kantung testis menonjol kebelakang canalis inguinalis

Turun keinguinal

H. Medialis

Vasokontriksi vaskuler
Desakan/teka nan

Nyeri

Gg. rasa nyaman nyeri
Menyatu dg. Tunika vaginalis tdk menutupnya prosesus vaginalis
Vagianalis peritoneum
Hernia lengkap penonjolan perut di lateral pembuluh epigastrika inferior

Jepitan cincin hernia fenikulus spermatikus H.lateralis 

canalis inguinalis

pembesaran inguinal
Heriography

Post Herniography
Dampak anetesi

Gg. fi. Sirkulasi
Hipersalivasi
COP meningkat

TD&HR meningkat

Suplai O2 berkurang
Gg. perfusi jaringan

Penumpukan sekret
Obs. Jln nfs

Bendungan vena
Bersihan jln nafas
Udem organ
Jepitan cincin hernia semakin bertambah H.Strangulata

Peredaran darah tergangguisi hernia nekrosis

Kantung transudat

Usus

Perforasi

Abses lokal
peritonitis



Photobucket